Aganna Sutta

pada kaum brahmana. Hanya kaum brahmana yang merupakan anak dan Brahma, lahir dari mulut brahma, keturunan brahma, di-ciptakan oleh brahma, pewaris brahma. Sedangkan mengenai diri-mu, engkau telah meninggalkan derajad yang terbaik, beralih ke golongan rendah, yaitu : pertapa gundul, badut yang kasar, mereka yang berkulit gelap, keturunan yang lahir dari kaki brahma. Keada-an seperti itu tidak baik, keadaan seperti itu tidak pantas. Dalam hal ini, bahwasanya
engkau yang telah meninggalkan kasta terhor-palsu, mereka yang berkulit gelap, kaum rendah, yang lahir dari kaki brahma — warga kami. Dengan kata-kata seperti itu, Bhante, para brahmana itu mencela dan menghina kami dengan makian, ejekan serta kata-kata kasar yang tidak sopan".
4. Vasettha, sesungguhnya para brahmana itu telah melupa-kan masa lampau apabila mereka berkata seperti itu. Sebaliknya, para brahmani, istri para brahmana itu dikenal subur, kelihatan hamil, melahirkan dan merawat anak-anak. Dan masih juga para brahmana yang lahir dari kandungan itu sendiri yang berkata bah-wa : Hanya kaum brahmana yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat, yang lain berkedudukan rendah. Hanya kaum brahmana yang berwajah cerah, yang lain berwajah gelap;' Hanya kaum brahmana yang berasal dari keturunan mumi, bukan mereka. yang lain daripada kaum brahmana. Hanya kaum brahmana yang • merupakan anak asli dari brahma, lahir dari mulut brahma, ketu­runan brahma, diciptakan oleh Brahma, pewaris brahma. Dengan cara ini mereka telah membuat tiruan terhadap sifat brahma (ab-bhacikkhanti brahmanan). Apa yang mereka katakan itu bohong, dan sungguh besar akibat buruk yang akan mereka peroleh".
5. Vasettha, terdapat empat kasta : khattiya, brahmana, ves-sa dan sudda. Di sini dan di mana pun terdapat kasta khattiya yang membunuh, mencuri, berzinah, berbohong, memfitnah, berbicara kasar, omong kosong, serakah, kejam dan menganut pandangan-pandangan keliru (miccha ditthi).
Vesettha, demikianlah kita lihat bahwa sifat-sifat buruk dan
yang dipandang demildan, yang tercela dan yang dipandang demi-kian, yang tidak layak dflakukan dan yang dipandang demikian, yang tidak patut dilakukan oleh orang yang teriiormat dan yang dipandang demikian, sifat-sifat celaka dan yang beraldbat mencela-kakan, yang tidak dianjurkan oleh para bijaksana; terdapat pula dalam diri seorang khattiya. Dan begitu pula kita dapat mengata-kan hal yang sama kepada kasta brahmana, vessa dan sudda.
6. Juga di sini dan di mana pun terdapat kasta khattiya yang menahan diri dari membunuh, mencuri, berzinah, berbohong, memfitnah, berbicara kasar, omong kosong serakah, kejam atau menganut pandangan-pandangan keliru (miccha ditthi).
Vasettha, demikianlah kita lihat bahwa sifat-sifat baik dan yang dipandang demikian, yang terpuji dan yang dipandang demi­kian, yang layak dilakukan dan yang dipandang demikian, yang pa­tut dilakukan oleh orang terhormat dan yang dipandang demikian, sifat-sifat yang bermanfaat dan yang mempunyai akibat yang ber­manfaat, yang dianjurkan oleh para bijaksana; terdapat pula dalam diri seorang kasta khattiya. Dan begitu pula kita dapat mengatakan hal yang sama kepada kasta brahmana, vessa dan sudda.
7. Vasettha, sekarang kita tahu bahwa sifat-sifat yang baik atau buruk. tercela atau terpuji oleh para bijaksana, adalah dimiliki oleh keempat kasta tersebut; dan para bijaksana tidak mengakui pemyataan-pemyataan yang dikemukakan oleh para brahmana se­perti tersebut di atas. Mengapa demikian ? Karena, Vasettha, siapa pun dari keempat kasta ini menjadi seorang bhikkhu, arahat, orang yang telah mengalahkan noda-noda batin (jinasavo), telah menger-jakan apa yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah meletakkan benan (ohitabharo), telah mencapai kebebasan (anuppattasadat-tho), telah mematahkan ikatan kelahiran, telah terbebas karena memiliki pengetahuan (sammadannavimutto); maka dialah yang dinyatakan paling baik di antara mereka, berdasarkan kebenaran (dhamma) dan tidak atas dasar yang bukan kebenaran (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehi-dupan yang akan datang.
8. Vasettha, berikut ini adalah sebuah contoh untuk me-ngerti mengapa Dhamma (Kebenaran) itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang :
Raja Pasenadi Kosala menyadari bahwa Samana Gotama telah meninggalkan keturunan Sakya, sedangkan Suku Sakya berada di bawah kekuasaan Raja Pasenadi Kosala. Suku Sakya memuja dan menghormatinya, mereka bangkit dari tempat duduk, beranjali dan melayaninya. Sekarang, Vasettha, sama seperti Suku Sakya yang melayani Raja Pasenadi Kosala dengan hormat, demikian pu-la caranya Raja Pasenadi Kosala melayani Sang Tathagata. Karena Raja Pasenadi Kosala berpikir : Bukankah Samana Gotama sem-puma kelahirannya (Sujato), sedangkan kelahiranku tidak sempur-na ? Samana Gotama itu perkasa, sedangkan aku lemah. Samana Gotama itu sangat mengagumkan, sedangkan aku tidak. Samana Gotama itu memiliki pengaruh yang besar, sedangkan aku hanya memiliki pengaruh yang kecil saja. Demikianlah, karena Raja Pase­nadi Kosala menghormati Dhamma, menghargai Dhamma, meng-indahkan Dhamma, sujud pada Dhamma, menganggap suci Dham­ma, maka ia memberikan hormat dan sujud pada Sang Tathagata, bangkit dari tempat duduk,\ beranjali dan melayani Beliau dengan hormat. Dengan contoh ini engkau dapat mengerti betapa Dham­ma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.
9. Vasettha, engkau semua yang berbeda keturunan, nama, suku dan keluarga; telah meninggalkan kehidupan rumah tangga;
mungkin akan ditanya: Siapakah engkau ? Maka engkau harus menjawab: Kita adalah para pertapa yang mengikuti Samana putra Sakya.
Vasettha, dia yang teguh keyakinannya kepada Sang Tatha­gata, berakar, mantap dan kokoh, suatu keyakinan yang tidak da-pat digoyahkan lagi oleh para pertapa dan brahmana, maupun oleh para dewa, mara dan Brahma atau siapa pun saja dalam dunia ini, ia dapat berkata: Aku adalah anak Sang Bhagava, lahir dari mulut Sang Bhagava, lahir dari Dhamma (Dhammajo), diciptakan oleh Dhamma (dhammanimmitta), pewaris Dhamma (dhammadayako).
Mengapa demikian ? Karena, Vasettha, nama-nama berikut ini ada­lah sesuai untuk Sang Tathagata: Dhammakayo (Tubuh Dhamma), Brahmakayo (Tubuh Brahma), Dhammabhuto (perwujudan Dham­ma), Brahmabhuto (Perwujudan Brahma).
10. Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur. Dan bilama-na hal ini terjadi, umumnya mahluk-mahluk terlahir kembali di Abhassara (Alam Cahaya); di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hi­dup secara demikian dalam masa yang lama sekali.
Vasettha, terdapat juga suatu saat, cepat atau lambat, setelah selang suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini mulai terben-tuk kembali. Dan ketika hal ini terjadi, mahluk-mahluk yang mati di Abhassara (Alam Cahaya), biasanya terlahir kembali di sini seba-gai manusia. Mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), dilipu­ti kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.
11. Pada waktu itu semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Ti­dak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bin-tang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan; siang maupun malam belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun-tahun maupun musim-musim belum ada; laki-laki maupun wanita belum ada. Mahluk-mahluk hanya dikenal sebagai mahluk-mahluk saja.
Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama se­kali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul ke luar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di per-mukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega mumi, demikianlah wamanya tanah itu;
sama seperti madu tawon mumi, demikianlah manisnya tanah itu.
12. Kemudian, Vasettha, di antara mahluk-mahluk yang me­miliki pembawaan sifat serakah (lolajatiko) berkata: 0 apakah ini?
dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mendcipmya, maka ia diliputi oleh sari itu, daa nafsu keinginan masuk dalam di-rinya. Dan mahluk-mahhik lainnya mengikuti contoh perbuatan-nya, mencicipi sari tanah itu deagan jari-jarinya. Dengan mencid-pinya, maka mereka diliputi oteh sari itu^ dan nafsu keinginan ma­suk ke dalam diri mereka. Maka mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tu-buh mahluk-mahluk itu menjadi lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konste-lasi-konstelasi nampak. Demikian pula dengan siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, musim-musim dan tahun-tahun pun terjadi. Demikianlah, Vasettha, sejauh itu bumi terbentuk kembali.
13. Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mere­ka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang bumk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir : Kita lebih indan daripada mereka, mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahannya sehingga menjadi sombong dan cong-kak, maka sari tanah itupun lenyap. Dengan lenyapnya sari tanah itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya: "Sayang, lesatnya! Sayang lesatnya!". Demikian pula sekarang ini, apabila orang menikmati rasa enak, ia akan berkata: "Oh lesatnya! Oh le­satnya! ; yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanya-lah mengikuti ucapan masa lampau, tanpa mereka mengetahui makna dari kata-kata itu.
14. Kemudian, Vasettha, ketika sari tanah lenyap bagi mah­luk-mahluk itu, muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (Bhumi-pappatiko). Cara tumbuhnya adalah seperti tumbuhnya cendawan. Tumbuhan ini memiliki wama, bau dan rasa; sama seperti dadi su-
su atau mentega mumi, demikianlah wamanya tumbuhan itu; sa­ma seperti madu tawon mumi, demikianlah manisnya tumbuhan itu. Kemudian mahluk-mahluk itu mulai makan tumbuh-tumbuh­an yang muncul dari tanah tersebut. Mereka menikmati, menda-patkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali; Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka berkembang menjadi lebih padat, dan per-bedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir: Kita lebih indah daripada mereka; mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menja­di sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun .lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) mun­cul, dan cara tumbuhnya adalah seperti bambu. Tumbuhan ini me­miliki wama, bau dan rasa; sama seperti dadi susu atau mentega mumi, demikianlah wamanya tumbuhan itu; sama seperti madu tawon mumi, demikianlah manisnya tumbuhan itu.
15. Kemudian, Vasettha, mahluk-mahluk itu mulai makan tumbuhan menjalar tersebut. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasar­kan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memi­liki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir : Kita lebih indah daripada mereka; mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap. Dengan le­nyapnya tumbuhan menjalar itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya : "Kasihanilah kita, milik kita hilang! Demikian pula sekarang ini, bilamana orang-orang ditanya apa yang menyu-
Sahkannya, mereka menjawab : Kasihanilah kita! Apa yang kita miliki telah hilang"; yang sesunguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan pada masa lampau, tanpa menge-tahui makna daripada kata-kata itu".
16. Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap bagi mahluk-mahluk itu, muncullah tumbuhan padi (sali) yang ma-sak dalam alam terbuka (akattha-pako), tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Bilamana pada sore hari me­reka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, maka keesokan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila­mana pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya un­tuk makan siang; maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali; demikian terus-menerus padi itu muncul.
Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup de­ngan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mere­ka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih pa-dat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sa-ngat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan tentang keadaan wanita. Karena mereka sa-ling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hu-bungan kelamin (methuna).
Vasettha, ketika mahluk-mahluk lain melihat mereka melaku­kan hubungan kelamin, maka sebagian melempari dengan pasir, se-bagian melempari dengan abu, sebagian melempari dengan kotoran sapi, dengan berteriak: "Kurang ajar! Kurang ajar! Bagaimana sese-orang dapat berbuat demikian kepada orang lain?" Demikian pula sekarang ini, apabila seorang laki-laki dari tempat lain menjemput mempelai wanita dan membawanya pergi, orang-orang akan me­lempari mereka dengan pasir, abu atau kotoran sapi; yang sesung-guhnya apa yang mereka lakukan itu hanyalah mengikuti bentuk-
bentuk masa lampau, tanpa mengetahui makna daripada perbuatan itu.
17. Vasettha, apa yang pada waktu itu dipandang tidak sopan (adhamma sammata), sekarang dipandang sopan (dhanuna-samma-ta). Pada waktu itu, mahluk-mahluk yang melakukan hubungan kelamin tidak diijinkan memasuki desa atau kota selama satu bu-lan penuh atau dua bulan. Dan pada waktu itu, oleh karena mah­luk-mahluk cepat sekali mencela perbuatan yang tidak sopan terse­but, maka mereka mulai membuat rumah-rumah hanya untuk me-nyembunyikan perbuatan tidak sopan itu.
Vasettha, kemudian timbullah pikiran semacam ini dalam diri sebagian mahluk yang berwatak pemalas: "Mengapa aku harus me-lelahkan diriku dengan mengambil padi pada sore hari untuk ma­kan malam, dan mengambil padi pada pagi hari untuk makan si­ang ? Bukankah sebaiknya aku mengambil padi yang cukup untuk makan malam dan makan siang sekaligus ?" Maka, setelah pergi, ia mengumpulkan padi yang cukup untuk dua kali makan.
Ketika mahluk-mahluk lain datang kepadanya dan berkata :
"Sahabat yang baik, marilah kita pergi mengumpulkan padi"; ia berkata : Tidak mau, sahabat yang baik; aku telah mengambil padi untuk makan malam dan siang". Selanjutnya sebagian mahluk lain datang dan berkata kepadanya : "Sahabat yang baik, marilah kita pergi mengumpulkan padi"; ia berkata: "Tidak perlu, sahabat yang baik, aku telah mengambil padi untuk dua hari". Demikianlah, da­lam cara yang sama mereka menyimpan padi yang cukup untuk empat hari dan selanjutnya untuk delapan hari.
Vasettha, sejak itu mahluk-mahluk tersebut mulai makan pa­di yang disimpan. Dedak mulai menutupi butir-butir padi yang bersih, dan butir-butir padi dibungkus sekam. Padi yang telah di-tuai atau potongan-potongan batangnya tidak tumbuh kembali, se-hingga terjadi masa menunggu. Dan batang-batang padi mulai tum­buh berumpun.
18. Vasettha, kemudian mahluk-mahluk itu berkumpul bersa-ma dan meratap dengan berkata : "Kebiasaan buruk telah muncul di kalangan kita. Dahulu kita hidup dari ciptaan batin (mano ma-
ya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa dan hidup dalam kemegahan. Kita hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.
Cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, mun-cullah bagi kita sari tanah dari dalam air, yang memiliki wama, bau dan rasa. Kita mulai membuat sari tanah itu menjadi gumpalan dan menikmatinya. Setelah kita berbuat demikian, maka cahaya tubuh kita lenyap. Ketika cahaya tersebut lenyap, maka matahari, bulan, ;
bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi mulai nampak; siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, musim-musim dan tahun-tahun pun nampak. Kita menikmati sari tanah tersebut, memakan-nya, hidup dengannya, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Tetapi sejak kelakuan buruk dan kebiasaan kebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalangan kita, lalu mun-cullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (bhumipappatiko), yang me­miliki wama, bau dan rasa. Kita mulai menikmatinya, memakan-nya, hidup dengannya, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Tetapi sejak kelakuan buruk dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalangan kita, maka tum-buhan yang muncul dari tanah itu lenyap. Ketika tumbuhan yang muncul dari tanah itu telah lenyap, lalu muncullah tumbuhan menjalar, yang memiliki wama, bau dan rasa. Kita mulai menikma­tinya, memakannya dan hidup dengannya, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Tetapi sejak kelakuan bu­ruk dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalang­an kita, maka tumbuhan menjalar itu lenyap. Ketika tumbuhan menjalar telah lenyap, lalu muncullah padi yang masak di alam ter-buka, tanpa dedak dan sekam; harurn dengan butir-butir yang ber-sih. Bilamana setiap malam kita memetik dan mengambilnya un-tuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus-menerus padi itu muncul. Kita menikmati padi ini, memakannya, hidup dengannya; dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Tetapi sejak kelakuan buruk dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalangan kita, maka dedak telah menutupi butir padi yang bersih dan sekam juga telah membungkus butir-butir padi ter­sebut. Dan bilamana kita telah memetiknya, padi itu tidak lang-
sung tumbuh kembali, sehingga teriadilah masa menunggu, dan ba-tang-batang padi mulai tumbuh berumpun. Karena itu, sekarang ini marilah kita membagi ladang-ladang padi dengan membuat ba-tas-batasnya".
Demikianlah mereka membagi ladang-ladang padi dan mem­buat batas di sekeliling ladang bagian mereka masing-masing.
19. Kemudian, Vasettha, sebagian mahluk yang memiliki pembawaan sifat serakah (lolajatiko), yang sedang menjaga ladang bagiannya sendiri, lalu mencuri padi dari ladang orang lain dan me­makannya. Mereka menangkap dan memegangnya erat-erat, dan berkata : "Sahabat yang baik, sesungguhnya engkau dalam hal ini telah berbuat jahat. Sewaktu sedang menjaga ladangmu sendiri, engkau telah mencuri milik orang lain dan memakannya. Perhati-kanlah baik-baik, jangan berbuat demikian lagi". Untuk kedua ka-linya ia berbuat demikian dan juga untuk ketiga kalinya. Dan kem­bali mereka menangkapnya dan menasehatinya : Sebagian dari me­reka memukulnya dengan tangan, sebagian melemparinya dengan bongkahan tanah dan sebagian memukulnya dengan tongkat.
Vasettha, demikianlah awal munculnya perbuatan mencuri;
dan pemeriksaan, kebohongan dan hukumanpun menjadi dikenal.
20. Vasettha, kemudian mahluk-mahluk itu berkumpul ber-sama dan meratap dengan berkata : "Perbuatan-perbuatan jahat te­lah muncul di kalangan kita, pencurian, pemeriksaan, kebohongan dan hukuman menjadi dikenal. Sebaiknya kita memilih salah se-orang di antara kita untuk mengadili mereka yang patut diadili, memeriksa mereka yang patut diperiksa, dan mengucilkan mereka yang harus dikucilkan. Dan untuk membalas jasanya, kita akan memberikan sebagian padi kita kepadanya".
Vasettha, kemudian mereka memilih salah seorang di antara mereka yang paling rupawan, paling disukai, paling menyenang-kan, paling pandai, dengan berkata kepadanya: "Sahabat yang ba­lk, sebaiknya engkau mengadili orang yang patut diadili, memerik­sa mereka yang patut diperiksa, mengucilkan mereka yang patut dikucilkan. Dan kita akan memberikan sebagian padi milik kita kepadamu".
la menyetujuinya dan berbuat demikian, dan mereka membe-rikan sebagian padi milik mereka kepadanya.
21. Vasettha, dipilih oleh banyak orang adalah apa yang di-maksud dengan Maha Sammata; maka Maha Sammata (Pilihan Agung) merupakan ungkapan pertama yang muncul (bagi seorang yang dipilih oleh banyak orang). Penguasa ladang adalah apa yang dimaksud dengan Khattiya; maka Khattiya merupakan ungkapan kedua yang muncul. la membuat senang orang lain dengan Dham-ma, (dengan melaksanakan prinsip kebenaran) adalah apa yang di­maksud dengan Raja; maka Raja merupakan ungkapan ketiga yang
muncul.
Vasettha, demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat Khattiya ini, yang dikenal sesuai dengan pemyataan permulaan pa-da masa lampau. Asal mula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga, dan bukan dari orang-orang lain; dari keinginan me­reka sendiri dan bukan tidak diingini; dan hal itu terjadi sesuai de­ngan Dhamma (apa yang seharusnya demikian), bukan terjadi ka-rena apa yang bukan-dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vaset­tha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan da-tang.
22. Vasettha, kemudian hal seperti berikut ini muncul pada diri orang-orang itu : "Perbuatan-perbuatan jahat telah muncul di kalangan kita, sehingga pencurian, pemerkosaan, kebohongan, hu-kuman dan pengucilan menjadi dikenal. Sekarang marilah kita me-nyingkirkan semua perbuatan jahat dan kebiasaan tidak sopan". Dan mereka melakukannya.
Vasettha, mereka yang menyingkirkan (bahenti) perbuatan-perbuatan jahat dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan adalah apa yang disebut dengan kata "brahmana"; demikianlah 'brahmana' merupakan ungkapan permulaan bagi mereka yang berbuat demi­kian. Mereka membuat pondok-pondok dari daun (pannakuti) di hutan, dan bersamadhi di situ. Mereka hidup tanpa perapian, tanpa asap, tidak mempergunakan alu dan lumpang; mereka mengumpul-kan makanan pi       hari untuk makan malam dan pada pagi
hari untuk makan siang; mereka mencari makanan dengan mema-suki desa, kampung dan kota. Setelah memperoleh makanan, me­reka kembali lagi ke pondok mereka dan bersamadhi.
Ketika orang-orang melihat hal ini, mereka berkata: "Orang-orang ini, setelah membuat pondok-pondok dari daun di hutan, lalu bersamadhi di situ. Mereka hidup tanpa perapian, tanpa asap, , tidak mempergunakan alu dan lumpang; mereka mengumpulkan makanan pada sore hari untuk makan malam, dan mengumpulkan makanan pada pagi hari untuk makan siang; mereka mencari ma­kanan dengan memasuki desa, kampung dan kota. Setelah mem­peroleh makanan mereka kembali ke pondok-pondok mereka dan bersamadhi.
Vasettha, mereka yang bersamadhi (jhayanti) inilah yang di­maksud dengan Jhayaka atau pelaksana samadhi; demikianlah kata Jhayaka merupakan ungkapan kedua yang muncul.
23. Vasettha, karena sebagian di antara mereka tidak tahan bersamadhi di pondok-pondok daun dalam hutan, maka mereka keluar dan tinggal di pinggir-pinggir desa-desa, kampung-kampung dan kota-kota, dan di sana mereka menulis buku (ganthe karonta). Dan ketika orang-orang melihat hal ini, mereka berkata: "Orang-orang ini, karena tidak tahan bersamadhi di pondok-pondok daun dalam hutan, maka mereka keluar dan tinggal di pinggir desa-desa, kampung-kampung dan kota-kota, dan di sana mereka menulis bu­ku. Mereka tidak bersamadhi (ajhayaka).
Vasettha, mereka yang tidak bersamadhi inilah yang dimak­sud dengan "Ajhayaka"; demikianlah kata ajhayaka merupakan ungkapan-ungkapan ketiga yang timbul. Pada waktu itu mereka di-pandang yang paling rendah, tetapi sekarang mereka menganggap bahwa diri merekalah yang paling tinggi.
Vasettha, demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat brahmana ini, dikenal menurut pemyataan permulaan pada masa lampau. Asal mula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga, dan bukan dari orang-orang lain; dari keinginan mereka sen­diri, dan bukan tidak diingini, dan hal itu terjadi sesuai dengan Dhamma (apa yang seharusnya memang demikian), bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Va-
settha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik da-lam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.
24. Selanjutnya, Vasettha, terdapat juga sebagian orang lain yang menempuh hidup berkeluarga dan melakukan berbagai ma-cam perdagangan. Mereka yang menempuh hidup berkeluarga dan melakukan berbagai macam perdagangan (vissa) inilah yang dimak-sud dengan 'Vessa' (Kaum Pedagang). Demikianlah kata Vessa ini dipergunakan sebagai ungkapan bagi orang-orang tersebut.
Vasettha, demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat vessa ini, yang dikenal sesuai dengan pernyataan permulaan pada masa lampau. Asal mula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga, dan bukan dari orang-orang lain; dari keinginan mereka sendiri, bukan tidak diingini; dan hal itu terjadi sesuai dengan dhamma (apa yang seharusnya demikian), bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam ke­hidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.
25. Selanjutnya, Vasettha, selebihnya dari orang-orang ini melakukan pekerjaan berburu. Mereka yang hidup dari hasil berbu-ru dan perbuatan atau pekerjaan lain semacamnya inilah yang di-maksudkan dengan 'Sudda'. Demikianlah kata 'sudda' ini dipergu­nakan sebagai ungkapan dari orang-orang tersebut.
Vasettha, demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat sudda ini, yang dikenal sesuai dengan pernyataan permulaan pada masa lampau. Asal mula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga, dan bukan dari orang-orang lain; dari keinginan mereka sendiri, dan bukan tidak diingini; dan hal itu terjadi sesuai dengan dhamma (apa yang seharusnya demikian), bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam ke­hidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.
26. Selanjutnya, Vasettha, pada suatu waktu, ketika terdapat beberapa orang khattiya memandang rendah cara hidupnya sendi-
ri, mereka meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menempuh hidup sebagai orang tak berumah tangga, dengan berkata: "Aku ingin menjadi pertapa".
Juga terdapat beberapa orang brahmana yang memandang rendah cara hidupnya sendiri, mereka meninggalkan kehidupan be­rumah tangga dan menempuh kehidupan sebagai orang tak beru­mah tangga, dengan berkata: "Aku ingin menjadi pertapa".
Juga, terdapat beberapa orang vessa yang memandang rendah cara hidupnya sendiri, mereka meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menempuh hidup sebagai orang tak berumah tangga, dengan berkata : "Aku ingin menjadi seorang pertapa".
Juga, terdapat beberapa orang sudda yang memandang ren­dah cara hidupnya sendiri, mereka meninggalkan kehidupan beru­mah tangga dan menempuh hidup tak berumah tangga, dengan berkata: "Aku ingin menjadi seorang pertapa".
Vasettha, dari empat kelompok masyarakat ini muncullah ke­lompok pertapa. Asal-usul mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga, dan bukan dari orang-orang lain; dari keinginan me­reka sendiri, dan bukan tidak diingini; dan hal itu terjadi sesuai de­ngan dhamma (apa yang seharusnya demikian), dan bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Va­settha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik da­lam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.
27. Vasettha, orang khattiya yang menempuh kehidupan ja-hat dalam perbuatan, perkataan dan pikiran; yang menganut pan-dangan-pandangan salah; maka sebagai akibat dari pandangan-pan-dangan dan perbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tu-buhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam alam celaka (apaya), alam sengsara (duggati), alam siksaan (vinipata), dan alam neraka (ntraya).
Juga, orang brahmana yang menempuh kehidupan jahat da­lam perbuatan, perkataan dan pikiran; yang menganut pandangan-pandangan salah; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam alam celaka (apaya),
alam sengsara (duggati), alam siksaan (vinipata), alam neraka (ni-raya).
Juga, orang vessa yang menempuh kehidupan jahat dalam perbuatan, perkataan dan pikiran; yang menganut pandangan-pan-dangan salah; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, sete-lah mati, mereka akan terlahir kembali dalam alam celaka (apaya), alam sengsara (duggati), alam siksaan (vinipata), alam neraka (ni-raya).
Juga, orang sudda yang menempuh kehidupan salah dalam perbuatan, perkataan dan pikiran; menganut pandangan-pandang­an salah; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan per­buatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka akan terlahir kembali dalam alam celaka (apaya), alam sengsara (duggati), alam siksaan (vinipata), alam neraka (nira-ya).
28. Vasettha, orang khattiya yang menempuh kehidupan ba-jik dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pan­dangan-pandangan benar; maka sebagai akibat dari pandangan-pan-dangan dan perbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tu­buhnya, setelah mati, mereka akan terlahir kembali dalam alam ba-hagia (suggati), alam surga (sagga).
Juga, orang brahmana yang menempuh kehidupan bajik da­lam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pandangan benar; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga.
Juga, orang vessa yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pan­dangan benar; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, sete­lah mati, mereka akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga.
Juga, orang sudda yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pan—
dangan benar; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, sete­lah mati, mereka akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga.
29. Vasettha, orang khattiya yang menempuh kehidupan gan-da (dvaya kari), baik dan buruk dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan campuran (vimissaditthiko);
maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan campurannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, sete­lah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia maupun alam sengsara.
Juga, seorang brahmana yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari), baik dan buruk dalam perbuatan, perkataan dan pi­kiran; yang menganut pandangan campuran (vimissaditthiko); ma­ka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-per-buatan campurannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah
mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia maupun alam sengsara.
Juga, seorang vessa yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari), baik dan buruk dalam perbuatan, perkataan dan pikiran;
yang menganut pandangan campuran (vimmissaditthiko); maka se­bagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan campurannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia maupun alam sengsara.
Juga, seorang sudda yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari), baik dan buruk dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pandangan campuran; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan cam­purannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia maupun alam sengsara.
30. Vasettha, seorang khattiya yang hid up dengan perbuatan, perkataan dan pikiran terkendali, yang telah mengembangkan tu-juh faktor untuk mencapai penerangan sempuma, maka ia akan mencapai pemusnahan total dari noda-noda batin (atau parinib-bana) (kilesa parinibbanena - parinibbati) dalam kehidupan seka-
rang ini.
Juga, seorang brahmana yang hidup dengan perbuatan, per-kataan dan pikiran terkendali, yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapai penerangan sempuma (satta bodhipakkhi-ya dhamma), maka ia akan mencapai pemusnahan total dari noda-noda batin atau parinibbana dalam kehidupan sekarang inijuga.
Juga, seorang vessa yang hidup dengan perbuatan, perkataan dan pikiran terkendali, yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapai penerangan sempuma (satta bodhipakkhiya dhamma), maka ia akan mencapai pemusnahan total dari noda-noda batin atau parinibbana dalam kehidupan sekarang inijuga.
Juga, seorang sudda yang hidup dengan perbuatan, perkataan dan pikiran terkendali, yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapai penerangan sempuma (satta bodhipakkhiya dhamma), maka ia akan mencapai pemusnahan total dari noda-noda batin atau parinibbana dalam kehidupan sekarang inijuga.
31.Vasettha, siapapun dari keempat kelompok masyarakat ini menjadi seorang bhikkhu, arahat, orang yang telah mengalah-kan noda-noda batin (jinasavo), telah mengerjakan apa yang hams dikerjakan (kata karaniyo), telah meletakkan beban (ohitabharo). telah mencapayke^ebasan (anuppattasadattho), telah mematahkan ikatan kelahiran^parikakkfcinabhavasannajano), telah terbebas ka-rena memilikrpengetahyanCs'aittmadannavimutto); maka dialah yang dinyatakari paling .teik 'di antara mereka, berdasarkan kebe-naran (dhamma) dan~ tidak atas dasar yang bukan dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfa-at bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.
32. Vasettha, syair ini telah diucapkan oleh Sanam Kumara, salah seorang dari para dewa Brahma :
"Khattiya adalah yang terbaik di antara kumpulan ini, Yang mempertahankan garis keturunannya Tetapi ia yang sempuma pengetahuan serta tindak tanduknya Adalah yang terbaik di antara para dewa dan manusia"
Vasettha, syair ini telah diucapkan dengan baik dan bukan-nya diucapkan dengan tidak baik oleh Brahma Sanam Kumara, ka-ta-kata yang baik bukan kata-kata yang buruk; penuh arti dan bu­kan kosong dari arti. Vasettha, begitu pula aku menyatakan :
"Khattiya adalah yang terbaik di antara kumpulan ini
Yang mempertahankan garis keturunannya
Tetapi ia yang sempuma pengetahuan serta tindak tanduknya
Adalah yang terbaik di antara para dewa dan manusia".
Demikianlah sabda Sang Bhagava. Vasettha dan Bharadvaja merasa puas dan bersuka cita mendengar sabda Sang Bhagava itu.
Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Tipitaka - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger