SATIPATTHANA SUTTA 10

1--     Demikianlah yang saya dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava menginap di daerah orang kuru, di Kammasadhana, sebuah kota niaga suku Kuru.  Di sana Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: "Para bhikkhu."
"Ya, Bhante," jawab para bhikkhu.
Sang Bhagava berkata: "Para bhikkhu, hanya ada sebuah jalan untuk mensucikan makhluk-makhluk, untuk mengatasi kesedihan dan ratap tangis, untuk mengakhiri derita dan duka cita, menjalani jalan benar, untuk mencapai nibbana, yaitu Empat 'Satipatthana' (Landasan Perhatian).

“Apakah empat hal itu?
Para bhikkhu, dalam hal ini seorang bhikkhu terus-menerus melakukan
(1) 'pengamatan-jasmani pada jasmani' (kaye kayanupassi), tekun, sadar, mengendalikan diri, mengatasi keserakahan dan kesedihan dalam dirinya. 
(2)   'pengamatan perasaan pada perasaan' (vedanasuvedananupassi), tekun, sadar, mengendalikan diri, mengatasi keserakahan dan kesedihan dalam dirinya. 
(3) 'pengamatan-pikiran pada pikiran' (citte cittanupassi), tekun, sadar, mengendalikan diri, mengatasi keserakahan dan kesedihan dalam dirinya.
(4)   'pengamatan-obyek-mental pada obyek mental' (dhammesu dhammanupassi), tekun, sadar, mengendalikan diri, mengatasi keserakahan dan kesedihan dalam dirinya.
2—    Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani'? 
Dalam hal ini, seorang bhikkhu  masuk hutan, pergi ke bawah sebatang pohon atau ke suatu tempat yang sepi; lalu ia duduk bersila dengan badan tegak dan senantiasa sadar terhadap apa yang dilakukannya.  
·                Dengan sadar ia menarik napas, dengan sadar ia mengeluarkan napas. 
·                Jika ia menarik napas panjang, ia mengetahui: ‘Saya menarik napas panjang,’
·                Jika ia mengeluarkan napas panjang, ia mengetahui: ‘Saya mengeluarkan napas panjang.’
·                Jika ia menarik napas pendek, ia mengetahui: ‘Saya menarik napas pendek,’
·                Jika ia mengeluarkan napas pendek, ia mengetahui: ‘Saya mengeluarkan napas pendek,’
·                Ia melatih dirinya dengan berpikir:  ‘Saya akan menarik napas yang dirasakan seluruh tubuh.’
·                Ia melatih dengan berpikir: ‘Saya akan mengeluarkan napas yang dirasakan seluruh tubuh.’
·                Ia melatih dirinya dengan berpikir: ‘Saya akan menarik napas yang menenangkan seluruh aktivitas tubuh.’
·                Ia melatih dirinya dengan berpikir: ‘Saya akan mengeluarkan napas yang menenangkan seluruh aktivitas tubuh.’
·                Bagaikan scorang ahli pembuat kendi atau muridnya, sewaktu membuat putaran panjang, ia mengetahui: ‘Saya membuat putaran panjang.’
·                Jika ia membuat putaran pendek, ia mengetahui: ‘Saya membuat putaran pendek.’
·                Begitu pula, jika seorang bhikkhu menarik napas panjang, ia mengetahui: ‘Saya menarik napas panjang;
·                Begitu pula jika ia mengeluarkan napas pendek, ia mengetahui: ‘Saya mengeluarkan napas pendek.’ 
·                Ia melatih dirinya dengan berpikir: ‘Saya akan menarik napas yang dirasakan seluruh tubuh.’ ... Saya akan mengeluarkan napas yang menenangkan seluruh aktivitas tubuh.’
·                Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajjhatta);
·                ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar (bahiddha); atau
·                ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam.  Atau
·                ia melakukan pengamatan terhadap ‘proses munculnya segala sesuatu’ (samuda-yadhammanupassi) dalam jasmani;
·                ia melakukan pengamatan terhadap proses lenyapnya segala sesuatu (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau
·                ia melakukan pengamatan terhadap ‘proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani.  Atau
·                ia berpikir: ‘Ada jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apapun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
3--     Para bhikkhu,
·                jika seorang bhikkhu berjalan, ia menyadari: ‘Saya berjalan’;
·                jika ia berdiri diam, ia menyadari: ‘Saya berdiri diam’;
·                jika ia duduk, ia menyadari: ‘Saya duduk’; atau
·                jika ia berbaring, ia menyadari: ‘Saya berbaring.’
·                Jadi, dalam posisi tubuh apapun ia menyadari posisi itu seperti itu.
·                Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajjhatta);
·                ia melakukan pengamatan-jassmani pada pada jasmani di luar (bahiddha) atau
·                ia melakukan pengamatan-jasmani di dalam dan di luar. Atau
·                ia melakukan  pengamatan terhadap proses munculnya segala sesuatu (samudayadhamma-nupassi) dalam jasmani;
·                ia melakukan pengamatan terhadap proses  lenyapnya segala sesuatu (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau
·                ia melakukan pengamatan terhadap proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu dalam jasmani. Atau
·                ia berpikir: ‘Ada jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk dingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apapun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
4—    Para bhikkhu, begitu pula seorang bhikkhu menyadari jika ia berjalan maju atau mundur; jika ia melihat ke depan atau melihat ke sekeliling ... jika ia membungkukkan badan atau meluruskan badan ... jika ia membawa sanghati (jubah luar), patta dan civara ... jika ia makan, minum, mengunyah, mengecap ... jika ia membuang air besar atau air kecil ... jika ia berjalan, berdiri, duduk, berbaring, bangun, bicara, diam, ia menyadari gerakan-gerakan ini.
·                Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan jasmani pada jasmani di dalam (ajjhatta);
·                ia melakukan  pengamatan-jasmani pada jasmani di iuar (bahiddha); atau
·                ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam.  Atau
·                ia melakukan pengamatan terhadap, proses munculnya segala sesuatu (samuda-yadhammanupassi) dalam jasmani;
·                ia melakukan pengamatan terhadap proses lenyapnya segala sesuatu (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau
·                ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani.  Atau
·                ia berpikir: ‘Ada jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apapun di dunia. 
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada  jasmani.
5--     Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu ‘merenung' (paccavekkhati) apa adanya tubuh itu, yang dibungkus oleh kulit dan diliputi oleh bermacam-macam kotoran, dari telapak kaki ke atas dan dari ubun-ubun kepala ke bawah, bahwa: ‘Ada hubungan jasmani dengan rambut badan, rambut kepala, kuku-kuku, gigi-geligi, kulit, daging, urat, tulang, sum-sum, ginjal, jantung, hati, membran, limpa, paru-paru, usus, selaput usus, perut, tinja, empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak kulit, ludah, ingus, cairan sendi dan kencing.’
Para bhikkhu, bagaikan karung yang memiliki dua tempat terbuka (mulut) yang berisi penuh dengan beracam-macam biji-bijian, seperti padi ladang, padi sawah, kacang merah, kacang polong, sesame dan beras; kemudian seorang yang bermata tajam mencurahkan biji-bijian itu ke luar, dengan merenung: ‘Itu padi ladang, itu padi sawah, itu kacang merah, itu kacang polong, itu sesame dan itu beras.’
Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu 'merenung' (paccavekkhati) apa adanya tubuh itu yang dibungkus oleh kulit dan diliputi oleh bermacam-macam kotoran, dari telapak kaki ke atas dan dari ubun-ubun kepala ke bawah, bahwa: ‘Ada hubungan jasmani dengan rambut badan, rambut kepala, kukukuku, gigi-geligi, kulit, daging, urat, tulang, sum-sum, ginjal, jantung, hati, membran, limpa, paru-paru, usus, selaput usus, perut, tinja, empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak kulit, ludah, ingus, cairan sendi dan kencing.’
Demikianlah seorang bhikkhu terusmenerus melakukan pengamatan-jasmani dalam jasmani.
6--     Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu merenungkan tubuh ini sesuai dengan bagaimana tubuh itu ditempatkan atau dibentuk, tubuh ini terdiri dari empat elemen, yaitu: ‘Dalam tubuh ini ada elemen padat, cairan, api dan udara.’
Para bhikkhu, bagaikan ahli jagal sapi atau muridnya, setelah menyembelih seekor sapi, mungkin ia akan duduk memperlihatkan bangkai sapi di perempatan jalan; demikian pula, seorang bhikkhu merenungkan tubuh ini sesuai dengan bagaimana tubuh itu ditempatkan atau dibentuk, tubuh ini terdiri dari empat elemen, yaitu: ‘Dalam tubuh ini ada elemen padat, cairan, api dan udara.’
·                Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajjhatta);
·                ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar (bahiddha); atau
·                ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam.  Atau
·                ia melakukan pengamatan terhadap ‘proses munculnya segala sesuatu (samuda-yadhammanupassi)’ dalam jasmani;
·                ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau
·                ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani.  Atau
·                ia berpikir: ‘Ada Jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia. 
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
7--     Para bhikkhu, begitu pula, jika seorang bhikkhu, melihat sesosok mayat di dalam kuburan, yang telah mati sehari, dua hari atau tiga hari, bengkak, membiru, membusuk, ia merenungkan tubuh ini apa adanya, ia berpikir: ‘Tubuh ini memiliki sifat yang sama, akan menjadi seperti itu, tidak akan terkecuali dari keadaan seperti itu.’
Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajhatta), ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar (bahiddha) atau ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam.  Atau ia melakukan pengamatan jasmani terhadap 'proses munculnya segala sesuatu’ (samudayadhammanupassi) dalam jasmani; ia melakukan pengamatan terhadap, ‘proses lenyapnya segala sesuatu’ (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani.  Atau ia berpikir : ‘Ada Jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia.
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
8--     Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu mungkin melihat sesosok mayat dalam kuburan, sedang dimakan oleh burung gagak, burung nasar,  anjing liar, srigala atau bermacam-macam binatang kecil; ia merenung tubuh ini apa adanya, ia berpikir: ‘Tubuh ini memiliki sifat yang sama, akan menjadi seperti itu, tidak akan terkecuali dari keadaan seperti itu.’
Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajhatta) ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar (bahiddha) atau ia melakukan pengamtan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam.  Atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu’ (samuda-yadhanunanupassi) dalam jasmani; ia melakukan pengamatan tehadap 'proses lenyapnya segala sesuatu (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani.  Atau ia berpikir: ‘Ada Jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya kbusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia. 
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.

9--     Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu melihat sesosok mayat dalam kuburan, berupa kerangka dengan darah, daging dan urat pengikat, ia merenung tubuh ini apa adanya ... atau sorang bhikkhu melihat sesosok mayat dalam kuburan, berupa kerangka tanpa daging tetapi ada bercak-bercak darah dan urat pengikat; ... atau seorang bhikkhu melihat  tulang belulang yang tercerai di sana dan di sini, yang tidak bersatu lagi: di sini ada tulang tangan, di situ ada tulang kaki, di sini ada tulang tungkai kaki, di sana ada tulang rusuk, di sini ada tulang paha, di sana ada tulang punggung dan di sini ada tulang tengkorak, ia merenung jasmani ini apa adanya.
Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajjhatta), ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar (bahiddha) atau ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam.  Atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu’ (samuda-yadhammanupassi) dalam jasmani; ia melakukan pengamatan terhadap ‘proses lenyapnya segala sesuatu’ (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani.  Atau ia berpikir: ‘Ada Jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia. 
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
10--   Para bhikkhu, begitu pula, seorang bhikkhu melihat sesosok mayat yang ada dalam kuburan, berupa tulang-tulang putih dan sesuatu seperti kulit kerang ... setumpuk tulang kering yang telah setahun lebih ... tulang belulang menjadi rapuh dan menjadi bubuk; ia merenung tubuh ini apa adanya, ia berpikir : ‘Tubuh ini memiliki sifat yang sama, akan menjadi seperti itu, tidak akan terkecuali dari keadaan seperti itu.’
Demikianlah, ia terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di dalam (ajhatta), ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar (bahiddha), atau ia melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani di luar dan di dalam.  Atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu' (samuda-yadhammanupassi) dalam jasmani'; ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu’ (vayadhammanupassi) dalam jasmani; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam jasmani.  Atau ia berpikir: ‘Ada Jasmani,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia. 
Demikianlah seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-jasmani pada jasmani.
11—  Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-perasaan pada perasaan (vedanasuveda-nanupassi)? 
Para bhikkhu, dalam hal ini,
·                ketika ia mengalami perasaan menyenangkan, ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan menyenangkan’;
·                ketika ia mengalami perasaan menyakitkan, ia menyadari: ‘Saya mengalami perasan menyakitkan’;
·                ketika ia mengalami perasaan-bukan menyakitkan-atau-tidak-menyenangkan (adukkham-asukkham), ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan-bukan menyakitkan-atau-bukan-menyenangkan’. 
·                Ketika ia mengalami perasaan menyenangkan yang berkaitan dengan materi (amisa), ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan menyenangkan yang berkaitan dengan materi;
·                ketika ia mengalami perasaan menyenangkan berkaitan dengan non-materi (niramisa), ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan menyenangkan berkaitan dengan non-materi.’
·                Ketika ia mengalami perasaan menyakitkan yang berkaitan dengan materi, ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan menyakitkan yang berkaitan dengan materi’.
·                Ketika ia mengalami perasaan menyakitkan yang berkaitan dengan non-materi, ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan menyakitkan yang berkaitan dengan non materi’ 
·                Ketika ia mengalami perasaan bukan menyakitkan atau bukan menyenangkan yang berkaitan dengan non-materi, ia menyadari: ‘Saya mengalami perasaan bukan menyakitkan atau bukan menyenangkan yang berkaitan dengan non-materi.’
Demikianlah, ia melakukan pengamatan-perasaan pada perasaan di dalam (ajjhatta); ia melakukan pengamatan-perasaan pada perasaan di luar (bahiddha); atau ia melakukan pengamatan-perasaan pada perasaan di luar dan di dalam.  Atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya segala sesuatu (samuda-yadhammanupassi) dalam perasaan: ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu’ (vayadhammanupassi) dalam perasaan; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam perasaan.  Atau ia berpikir : ‘Ada perasaan,’ pengamatannya terjadi hanya khusus untuk pengetahuan itu, hanya untuk diingat, hidup bebas dan tanpa melekat pada apa pun di dunia. 
Demikianlah, seorang bhikkhu terus-menerus melakukan pengamatan-perasaan pada perasaan.
12--   Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu terus-menerus melakukan ‘pengamatan-pikiran pada pikiran' (citte cittanupassi)? 
Para bhikkhu, dalam hal ini, seorang bhikkhu mengetahui:
·                pikirannya diliputi oleh nafsu indera (saraga) sebagai pikiran diliputi nafsu indera; pikiran tidak diliputi  nafsu indera sebagai pikiran tidak diliputi nafsu indera.
·                Ia mengetahui pikirannya diliputi kebencian (sadosa) sebagai pikiran diliputi kebencian; pikiran tidak diliputi kebencian sebagai pikiran tidak diliputi kebencian (vitadosam),
·                Ia mengetahui pikiran diliputi kebodohan (samoha) sebagai pikiran diliputi kebodohan, pikiran tidak diliputi kebodohan (vitamoha) sebagai pikiran tidak diliputi kebodohan.
·                Ia mengetahui pikiran diliputi pikiran tidak diliputi kebodohan, Ia mengetahui pikiran diliputi kelemahan atau kemalasan (sankhittam) sebagai  pikiran diliputi kekacauan (vikkhitam)
·                Ia mengetahui pikiran diliputi pikiran berkembang (mahaggatam) seabagai pikiran tidak berkembang (amahaggam)
·                Ia mengetahui pikiran diliputi pikiran luhur (sa-uttaram) seabagai pikiran tidak luhur (anuttara)
·                Ia mengetahui pikiran  diliputi pikiran terpusat (samahitam)
·                Ia mengetahui pikiran tidak terpusat (asamahitam) sebagai pikiran tidak terpusat.
Demikianlah, ia melakukan pengamatan pikiran pada pikiran di dalam (ajjhata); ia melakukan pengamatan pikiran di luar (bahiddha); atau ia melakukan pengamatan pikiran pada pikiran di luar  atau di dalam. Atau ia melakukan pengamatan terhadap proses munculnyha segala sesuatu (samuda yadhammanupassi) dalam pikiran, ia melakukan pengamatan terhadap proses lenyapnya segala sesuatu (vajadhammnaupassi) dalam pikiran; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses lenyapnya segala sesuatu’  dalam pikiran; atau ia melakukan pengamatan terhadap 'proses munculnya dan lenyapnya segala sesuatu' dalam pikiran.  Atau ia berpikir: "Ada Pikiran,"
Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Tipitaka - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger